NTT Berharap Jepang Bangkit, Saingi Korsel dan Taiwan dalam Industri Chip

kali dibaca

 


Chip merupakan barang yang sangat berharga karena fungsi vitalnya di dalam dunia teknologi. Sehingga dalam dunia industri, industri chip bergerak dengan sangat dinamis karena bersifat kompleks mencakup beberapa bidang. Bidang tersebut terpecah dalam desain (fabless), manufaktur (foundry), dan perakitan (OSAT). Industri chip (semikonduktor) adalah sektor terpenting yang membuat otak digital untuk perangkat modern seperti smartphone, AI, dan mesin dengan pemain utama produsennya seperti Nvidia, TSMC, hingga Samsung. Sampai sejauh ini, industri chip Asia masih dalam kancah persaingan ketat seperti TSMC di Taiwan dan Samsung di Korsel.


Mengutip dari Reuters, raksasa telekomunikasi Jepang, NTT, mengatakan pihaknya lebih memilih pendekatan 'niche', ketimbang berkompetisi dari segi skala dan harga pada Selasa (16/12).


Jepang berencana untuk masuk ke persaingan mulai 2027 mendatang. NTT melalui Rapidus mendapat bekingan dari pemerintah senilai US$65 miliar sebagai proyek invasif demi mengembalikan kejayaan di era 1980-an. Jepang kehilangan daya saing karena mengejar produksi bervolume tinggi namun biayanya rendah. 


Jun Sawada dari NTT, menyatakan akan menerapkan strategi sebaliknya. "Dalam hal skala ekonomi, kita tidak bisa mengalahkan TSMC Taiwan atau Samsung Electronics Korea Selatan. Maka kita harus mengincar variasi produk yang tinggi dengan volume produksi yang rendah," kata Sawada.



Rencana Jepang selaras dengan upaya Washington sebagai penguasa rantai pasok untuk memastikan rantai pasok chip aman. Tindakan ini merupakan respon atas perkembangan industri teknologi canggih dari Tiongkok. Tidak mau kalah, Tiongkok memanfaatkan kebijakan Washington sebagai katalisator untuk mempercepat pengembangan chip mandiri disertai dana yang tidak sedikit.


Sementara di Indonesia sendiri dalam industri chip, masih berupaya masuk dalam rantai pasok yang dikuasai Washington. Memanfaatkan sumber daya alam (selenium) dan mendorong pengembangan di Batam. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan impor dan mendukung ekonomi digital. 



(Redaksi Edukratif)

Tulis Komentar

Previous Post Next Post