Nasi Goreng Merdeka

kali dibaca

 


Setelah dirasa sudah matang, Satriyo menciduk nasi ke atas piring saji. Peluh membasah di kemejanya. Debaran jantung kian meningkat di kala ketiga juri mendekat: salah satunya Pak Hasyim, kepala sekolah. Beliau menautkan sepasang alisnya ketika melihat penampakan nasi goreng Satriyo.


Sebelum pintu tertutup rapat, Emak mewanti-wanti Satriyo untuk tidak mengusik nasi putih di panci: itu nasi terakhir mereka. Tak ada lagi beras di gudang. Namun, bocah sebelas tahun itu rupanya tak peduli, meski mungkin nanti ia akan dimaki, atau dilempari tutup panci, atau dijewer telinganya berkali-kali, Satriyo tetap akan menggunakan nasi itu untuk latihan memasak nasi goreng—ia ingin ikut lomba memasak bertema Nasi Goreng Merdeka di sekolahnya, Sabtu depan.


“Apa pun yang terjadi, aku harus menang!” Satriyo membatin sembari mengkhayalkan akan menerima hadiah tas punggung yang harum dan kinclong. Tempo hari ia mendengar kabar bahwa si pemenang lomba akan mendapat tas sekolah. Tas Satriyo sudah buluk, apek dan penuh tambalan di beberapa bagian. Maka hari itu, Ahad pagi yang berembun ketika Emak sudah berangkat menjajakan getuk tiwul keliling desa dan pintu tertutup rapat, bocah itu mengendap-endap ke dapur. Ia membuka panci yang hanya menyisakan sepuluh centong nasi putih.


“Seandainya bahan-bahan lomba disediakan dari sekolah… aku tak perlu pusing kalau berasku habis.” Satriyo membuang napas kasar. “Tapi kalau nggak latihan dulu, bagaimana aku bisa membuat nasi goreng yang enak?” gumamnya seraya menggeledah bumbu-bumbu di besek.


Ia memungut beberapa cabe dan bawang lalu menguleknya di cobek. Meski harus menahan perih menatap bumbu itu ditumbuk-tumbuk di atas wadah batu yang bagian tengahnya mulai retak, tapi semangat Satriyo tidak koyak. Dengan lekas ia melap matanya yang berair kemudian kembali beraksi: menyalakan api di tungku, menumpangkan wajan di atasnya lalu menuangkan minyak sayur. Setelah panas, bumbu dimasukkan, barulah kemudian nasi putih.


Uhuk uhuk! Aroma menyengat menyeruak. Satriyo yakin masakannya nanti pasti lezat, tapi yang ada justru nasi itu lengket di wajan, rasanya pun keasinan.


“Apa minyak sayurnya kurang, ya?” Satriyo gusar.

Tanpa pikir panjang, ia pun kembali membuat nasi goreng yang kedua. Kali ini ia mengurangi takaran garam dan menambah sedikit minyak goreng. Ia bertekad menyelesaikan latihan sebelum zuhur karena biasanya saat itulah Emak pulang. Namun ketika ia akan menuang nasi ke wajan, terdengar suara pintu reot di rumah kayu itu berderit.

Satriyo tergeragap. Ia tak menyangka Emak akan pulang lebih awal. Pagi itu, ada seorang juragan memborong dagangan Emaknya. Dengan tangan gemetar, Satriyo menghentikan aktivitasnya. Ketika Emak melangkah ke dapur dan mendapati keadaannya yang awut-awutan, mata Emak langsung terbelalak.

“Apa yang kaulakukan, Satriyo!?” Emak berteriak serak dan lantang seraya bergegas mendekati anaknya yang berdiri pasrah. Cubitan pun berkali-kali mendarat di badan Satriyo. Bocah itu merintih kesakitan tapi menahannya dengan kuat; sekuat keinginannya mengikuti lomba.

Entah mana yang terasa lebih menyakitkan: makian atau cubitan, begitu seterusnya bergantian.

***


“Beras sudah habis. Untuk hari-hari ke depan kita makan tiwul!” ungkap Emak sembari menggoyang-goyangkan tepung gaplek di atas nampan bambu yang akan dikukus dan dijadikan tiwul.

Di bawah cahaya lampu yang temaram, Satriyo menatap mata cekung Emak dalam-dalam: ia merasa bersalah.

“Apa Emak masih keberatan kalau Satriyo besok nekat ikut lomba?”

Emak berhenti sejenak.

“Maafkan Satriyo, Mak! Satriyo hanya pengin tas baru kayak punya teman-teman.”

Satriyo mengiba. Suaranya terdengar lembut di gendang telinga Emak. Entah kenapa saat itu hati Emak pun mulai luluh. Ia sadar selama ini mereka hidup dalam kondisi serba kekurangan. Meski begitu, Satriyo tidak pernah mengeluh. Perempuan itu lantas membalas tatapan anaknya. Di sana, ia menemukan kobaran semangat yang menyala-nyala; menyerupai sorot mata almarhum suaminya yang selalu gemilap acapkali berangkat keluar rumah mencari nafkah.

***


“Satriyo butuh ridha Emak.”

Dahi Emak berkerut, garis-garis itu nyaris tak terlihat karena wajahnya mulai dipenuhi kerutan-kerutan serupa.

“Kalau menang nanti, Satriyo akan mendapatkan tas baru, Mak. Jadi, Emak tak perlu repot-repot membelikan tas buat Satriyo.”

Emak tersenyum, menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

“Tapi beras kita sudah habis, Satriyo! Uang pun hanya cukup untuk beli lauk seadanya.”

Satriyo menunduk. Matanya kini mengarah ke adonan tepung yang berserak di nampan yang dipegang Emak. Cukup lama ia memandangi tepung itu, sampai akhirnya ia menyadari satu hal. Matanya seketika membeliak lebar.

“Satriyo tahu, Mak! Satriyo tahu apa yang harus dilakukan!” seru Satriyo penuh semangat.

***


Sabtu yang cerah. Semua murid berseragam putih-merah berkumpul di halaman sekolah. Ada berbagai jenis lomba yang diadakan, salah satunya lomba memasak. Kini Satriyo sudah berdiri di antara barisan peserta laki-laki. Awalnya ia merasa minder lantaran bahan yang dibawa berbeda dengan peserta lainnya. Namun setelah mengingat wajah tulus Emak saat membantunya menyiapkan bahan-bahan lomba, ia menepis perasaan itu kuat-kuat. Ia tak ingin mengecewakan perempuan yang telah melahirkannya.

Satriyo berdoa lalu beraksi sebagaimana yang pernah dilakukan di rumah hari sebelumnya. Sesudah menyalakan kompor yang disediakan panitia, Satriyo menciprat-cipratkan minyak ke sekeliling permukaan wajan. Supaya tidak lengket, begitu pesan Emak tadi padanya. Kemudian ditumisnya bumbu yang sudah diulek di atas cobek; baru kemudian nasi beserta garam.

Meski kecil, tangannya terampil menyerok nasi diikuti suara sreng sreng sreng ala abang-abang gerobak. Setiap peserta tampil dengan caranya tersendiri. Wajah mereka sumringah lantaran para pendukung mereka memberi semangat.

Seperti nama Satriyo yang disebut-sebut dengan nyaring oleh Yadi, teman sebangkunya. Kepulan asap membubung tinggi tampak dari luar gerbang. Aroma masakannya menyeruak indera penciuman orang-orang yang berlalu-lalang.

***


Setelah dirasa sudah matang, Satriyo menciduk nasi ke atas piring saji. Peluh membasah di kemejanya. Debaran jantung kian meningkat di kala ketiga juri mendekat: salah satunya Pak Hasyim, kepala sekolah. Beliau menautkan sepasang alisnya ketika melihat penampakan nasi goreng Satriyo.

“Ini nasi tiwul, Pak!” Satriyo memahami raut heran yang ditampakkan kepala sekolahnya tersebut. Dengan sedikit gemetar ia mencoba mengawali pembicaraan.

“Tiwul?” tanya Pak Hasyim sambil memiringkan muka dan melipat kedua tangan di atas perut.

Satriyo mengangguk pelan.

“Tema lomba kali ini Nasi Goreng Merdeka, ’kan, Pak?”

“Hmm, ya ya!” sahut Pak Hasyim.

“Karena tidak ada ketentuan nasi harus dari beras, jadi saya pikir setiap peserta bebas menggunakan bahan apa saja. Dan sebenarnya memang inilah nasi yang saya makan sehari-hari di rumah, Pak! Kata Emak, uang untuk beli beras bisa dipakai membeli kebutuhan lainnya.” Satriyo berbicara sambil setengah menunduk.

“Karena tidak ada ketentuan nasi harus dari beras, jadi saya pikir setiap peserta bebas menggunakan bahan apa saja. Dan sebenarnya memang inilah nasi yang saya makan sehari-hari di rumah, Pak! Kata Emak, uang untuk beli beras bisa dipakai membeli kebutuhan lainnya.” Satriyo berbicara sambil setengah menunduk.

“Oh, begitu.” Pak Hasyim manggut-manggut sambil menepuk-nepuk pundak Satriyo dengan lembut.

“Oh iya, satu lagi, Pak!” Kali ini Satriyo berbicara dengan mengangkat kepala.

 “Saya pernah baca kalau tiwul itu memiliki serat yang tinggi dan bisa digunakan untuk diet,” lanjut Satriyo seraya melirik Pak Budi, salah satu juri yang berbadan gempal dan berkumis tebal.

Pak Budi terbatuk-batuk sebentar, sementara kedua juri lainnya tersenyum-senyum mendengar penjelasan Satriyo. Mereka saling berbisik, kemudian mencicipi nasi goreng itu, lantas meninggalkan Satriyo yang digerayangi perasaan gusar tidak keruan.

Sudah hampir tiga jam Satriyo menunggu hasil pengumuman. Ia tidak tertarik mengikuti teman-temannya yang sedang asyik bermain di luar kelas. Bayangan tas sekolah yang harum dan kinclong menghiasi benaknya. Ia berharap bisa pulang membawa tas itu dan memamerkannya kepada Emak. Matanya penat dan terasa berat. Ia pun membenamkan wajah di antara kedua tangannya di atas meja. Hingga tiba-tiba terdengar teriakan Yadi memecah keheningan.

***


“Yo, selamat! Kau menang!” Yadi mengguncang-guncang tubuh Satriyo.

“Apa? Serius, Yad?” Satriyo menanggapi sambil mengucek-ucek kedua matanya yang memerah.

“Serius! Tuh, mereka sedang memanggilmu!”

Seketika Satriyo mendongak. Terdengar namanya riuh disebut berulang-ulang. Lantas dengan tangkas kakinya bergerak. Ia berlari sekuat tenaga menuju panggung dengan perasaan girang—ia meraih juara dua. Namun ketika tangannya bersiap menerima hadiah, seketika wajahnya pucat melihat sebuah benda pipih sepanjang telapak tangan disodorkan kepadanya. Sementara kemudian, di samping kirinya, sang juara tiga diberi kotak besar yang terikat pita merah merona.


- Wonogiri, 2024


*Cerpen dimuat dalam KBA News dengan judul yang sama.


Penulis: Prima Yuanita

Penyelaras: Resza Mustafa

Tulis Komentar

Previous Post Next Post