Langkah Kecil Penjaga Rimba

kali dibaca

Tepatnya di sebuah desa bernama Wonoasri yang terletak di kaki perbukitan, tinggal seorang anak laki-laki berumur empat belas tahun bernama Arya. Dia tinggal bersama ayah, ibu, dan kakeknya di sebuah rumah sederhana yang dikelilingi sawah dan ladang. Arya bukan anak yang suka berlama-lama di depan televisi atau bermain hp. Sejak kecil, dia lebih senang berjalan-jalan di alam, mengamati serangga, mendengar suara burung, dan memanjat pohon-pohon jambu di halaman belakang rumahnya.

Namun, akhir-akhir ini Arya merasa gelisah. Hutan kecil yang biasa dia datangi setiap sore terasa semakin panas. Semakin banyak pepohonan ditebang. Air sungai yang dulu mengalir deras kini tinggal genangan kecil yang mengering ketika kemarau datang.


Suatu sore, Arya pulang dari hutan dengan napas berat dan wajah muram. "Kenapa hutan kita jadi rusak, Kek?" tanyanya sambil duduk di serambi rumah. 

Kakeknya menatap langit yang memerah oleh matahari sore. "Karena kita, manusia, terlalu serakah. Menebang pohon tanpa berpikir panjang. Tapi dulu, ada seseorang yang berusaha memperbaiki semua itu. Namanya Pak Sodikin. Sayangnya kini beliau tak lagi bisa melanjutkan perjuangannya karena kesehatannya semakin melemah,"

Arya mengernyit. "Siapa dia, Kek?"

Senyum lembut menghiasi wajah kakeknya. "Seorang petani sederhana dari Winosari. Dia menanam ribuan pohon beringin agar desanya tidak kekeringan. Dia menanam pohon-pohon tersebut sendirian, tanpa pamrih, tanpa gembar-gembor. Hanya dengan cinta dan ketekunan,"

Kakek lalu berdiri perlahan, berjalan menuju lemari, dan kembali sambil membawa sebuah buku tua. Dia meletakkannya di hadapan Arya. Dengan penasaran, Arya membuka buku itu dan mendapati isinya adalah kisah tentang Pak Sodikin. 

"Kalau Pak Sodikin bisa memulihkan hutan sendirian, kenapa aku tidak mencobanya saja?" pikir Arya.

Sejak itu Arya mulai bertindak. Dia menyirami tanaman di sekitar rumah, memungut sampah plastik saat berjalan ke sekolah, dan mulai menanam bibit pohon yang dia beli dari hasil uang jajan yang disisihkan. Dia juga mengajak teman-temannya serta. 

Awalnya, banyak yang mengejek.

"Ngapain capek-capek tanam pohon? Dasar anak aneh!" ejek Rian, teman sekelasnya. Tapi Arya tidak menggubris. Dia terus menanam. Satu pohon di pinggir lapangan sekolah. Dua pohon di dekat sungai. Lalu sepuluh pohon di bukit kecil dekat rumahnya. Dia mencatat pertumbuhannya setiap minggu, memberi nama pada pohon-pohon itu layaknya teman: si Jambu, si Kelor, si Sengon.

Lambat laun, beberapa teman mulai tertarik. Mereka melihat bahwa tempat yang dulu gersang kini mulai berubah. Burung-burung kembali datang, udara jadi lebih sejuk. Guru-guru di sekolah mulai memuji usaha Arya. 

Kepala sekolah bahkan mengundangnya berbicara di upacara bendera. “Kita bangga punya murid seperti Arya yang peduli pada lingkungan. Mari kita semua ikut menjaga bumi kita bersama-sama!”

Program “Satu Anak Satu Pohon” pun diluncurkan di sekolah. Setiap siswa diminta menanam dan merawat satu pohon selama setahun. Arya menjadi ketuanya.

Tahun demi tahun berlalu. Saat Arya duduk di kelas sembilan, desa Wonoasri mengalami musim kemarau terpanjang dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak desa tetangga mengalami kekeringan.

Tapi tidak dengan Wonoasri. Air masih mengalir di sungai kecil. Sumur-sumur tidak kering. Orang-orang yang melihatnya mulai sadar, bahwa pepohonan yang tumbuh subur di perbukitanlah yang menyelamatkan desa itu dari bencana.


Arya dan teman-temannya tersenyum puas melihat hasil kerja keras mereka.

Suatu sore, Arya dan kakeknya duduk kembali di serambi, seperti beberapa tahun lalu.

“Kek,” kata Arya pelan, “apa aku sudah seperti Pak Sodikin?”

Kakeknya tersenyum dan menepuk bahunya. “Kau belum menjadi seperti beliau, Nak. Tapi kau sudah mengambil langkah yang sama. Dan langkah-langkah kecilmu telah menyelamatkan masa depan banyak orang.”

Arya menatap langit senja. Dia tahu perjuangannya belum selesai. Masih banyak pohon harus ditanam, banyak orang harus diajak, dan banyak hutan yang harus diselamatkan. Tapi dia tidak takut. Karena dia percaya, setiap pohon tumbuh sama saja dengan harapan yang hidup.


***

*Cerpen juga dimuat dalam majalah ZIKARA (ZINE KARYA GISTRA) - @gistraku dengan judul yang sama.

Penulis: Aditya Rizki H.
Penyelaras: Resza Mustafa

Tulis Komentar

Previous Post Next Post